ASAL USUL DESA TROSONO
Cerita sejarah asal-usul Desa Trosono berawal dari sebuah kampung yang bernama Trawasan. Nenek moyang kami yang secara turun temurun menceritakan tentang tanah kramat yang diberi nama SEMINGIT/PANINGIT. Disinilah tokoh-tokoh pada masa hancurnya kerajaan Singasari (Kertanegara) pernah menetap. Mereka menetap di kampung ini dengan tujuan agar jauh dari kekuasaan Jayakatwang. Di kampung ini juga sejumlah keluarga Kertanegara berkonsentrasi menimba ilmu. Setelah beberapa tahun kemudian para tokoh tersebut terutama Raden Wijaya telah memperoleh kesaktiannya. Akhirnya tanah tersebut diberi nama "Trawasan" yang artinya Mempunyai tiga kekuatan. Yakni Raden Wijaya sebagai penerus kertanegara yang syah. Kekuatan yang mereka dapatkan semata-mata karena mereka sangatlah mengabdi kepada yang Maha Kuasa, dan sabar dalam menghadapi cobaan apapun.
Tanah Semingit/Paningit yang dulunya digunakkan sebagai tempat mencari kesaktian sekarang telah dimanfaatkan sebagai komplek perkantoran pemerintah Desa Trosono (Gedung Balai Desa, Polindes dan TK Dharmawanita).
Para tokoh tersebut kemudian bersatu menggalang kekuatan untuk merebut Trahnya. Ketika sudah cukup memiliki kekuatannya, para tokoh tersebut berangkat menggempur Jayakatwang. Saat mau berangkat dalam sebuah misi besar, mereka meminta beberapa anggota keluarga dan para punggawanya untuk tetap tinggal di kampung Trawasan. Untuk menjaga dan meneruskan kekuasaanya diperintahlah Danyang Sakti Nyi Sentro dan dua punggawanya yaitu Ki Keling dan Suryo Tajem.
Suryo Tajem bertugas untuk menjaga keamanan dan kerukunan di kampung Trawasan, sedangkan Nyi Sentro dan Ki Keling bertugas sebagai penasehat dalam keluarga tersebut. Sebelum berangkat Raden Wijaya berkata nanti dia akan kembali untuk mengunjungi kerabatnya yang masih menetap di sini dan dia berkata "Jagalah kekompakan dan keharmonisan bersama".
Dalam kurun waktu yang sangat lama Raden Wijaya ingat akan kerabatnya yang diminta menetap di kampung Trawasan. Tanpa berfikir panjang beliau memerintah utusan (Perajurit) untuk mengunjungi kerabatnya. Sesampainya di Desa Trawasan utusan tersebut menyampaikan pesan dari Raden Wijaya yaitu Suryo tajem diangkat sebagai Akuwu/pimpinan/ kepala desa, sedangkan Ki Keling sebagai punggawa/sekertaris desa. Dalam kepemimpinanya kedua tokoh tersebut memimpin penduduk Desa Trawasan dengan sangat arif dan bijaksana.
Selain itu ada juga Prajurit Majapahit lain yang datang ke Trawasan. Beliau pernah nyantri (berguru untuk memperdalam ilmu agama Islam) kepada Syekh Ibrahim Asmoroqondi yang makamnya terletak di Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban. Perajurit tersebut bernama Raden Surodipo/Mustopo karyo alias Mbah Palang. Sampai pada akhirnya Raden Surodipo mempunyai keinginan yang kuat didalam hatinya untuk memeluk agama Islam dan beliau mengucapkan syahadat disaksikan para santri Syekh Ibrahim Asmoroqondi. Setelah sekian lama mempelajari ilmu agama Islam akhirnya beliau diutus oleh gurunya Syekh Asmoroqondi untuk berdakwah di daerah timur dari Bengawan Solo dan ditemani istrinya yang bernama Dewi Condro Wulan Sari.
Beliau sempat berhenti di Desa Keting yang dulunya merupakan bekas pelabuhan atau tempat lewatnya para wali.
Saat beliau selesai berhenti di pelabuhan beliau berdua melanjutkan kembali perjalanannya ke arah timur dan berhenti di antara 2 pohon besar yaitu pohon sono dan 2 bunga (Kampun Trawasan).
Kedatangannya diterima baik oleh mayarakat setempat. Masyarakat Trawasan pada saat itu masih kental dengan agama Hindu, Budha dan Kapitayan.
Pada saat itu agama Islam ada, akan tetapi belum banyak diminati dari kalangan kaum kawulo atau gusti. Agama Islam bisa berkembang begitu pesat di â–· Trawasan karena sikap Raden Surodipo yang sangat bijaksana. Pola metode dakwah yang dipakai sangat beragam salah satunya adalah dakwah secara lenient yakni secara lemah lembut dan memberikan kesenangan apa yang diinginkan oleh penduduk setempat. Dengan kepemimpinannya dalam setiap musyawarah mengemban misi yang sangat baik dan saling gotong royong.
Di Desa Trawasan, beliau berdua sempat mendirikan sebuah bangunan padepokan (tempat mengajarkan agama Islam) yang sekarang menjadi tempat berdirinya masjid Al- Abror dan balai pertemuan. Selain itu Nyi Sentro dan Ki Keling juga turut serta memajukan desa dengan membuat sumur kembar yang diberi nama sumur bandung di depan padepokan. Sedangkan Suryo Tajem dan Panji Saksono membuat telaga di tengah kampung Trawasan. Telaga itu diberii nama Tlogo Kumbeng. Jadi jika disatukan menjadi " SUMUR BANDUNG TLOGO KUMBENG" yang mengandung makna kuat menghadapi cobaan dan tulus ikhlas dalam bekerja. Setelah selesai membangun sumur dan telaga para sesepuh bersepakat akan melanjutan misi membangun kampung Trawasan dan berkata "AYO DIITERUSNO" demi kelangsungan hidup anak cucu kita. Dengan begitulah, melalui musyawarah yang dipimpin oleh Suryo Tajem nama kampung Trawasan diubah menjadi "TROSONO" yang berasal dari nama Nyi Setro dan Saksono